Saat langit menangis menepi
biarkan barat menyapa timur
melewati bersama senja demi senja
Berkisah mesra tentang garis wajahmu
bersama kawanan didadari lantunkan soprano
di tengah taman hijau aku hamparkan biru
semoga tidak menyentuh abu
Ugahari menatap langit
para dedaunan bermain membasahi tanah
menyuburkan semua rindu ku punya
Terdiam sepi melawan sepi
aku sendiri,
hampa rindu kan pelangi
berharap di langit depan menatapku
membalas rindu terdalam
Sungguh aku tak bisa meniup hari
sembunyikan dalamnya sisi ruang bathin
bangunkan jiwa terlelap rindu
Aku pasrah dalam mabuk biru
menyentuh balutan warna di jiwamu
menguraikan lembaran tebal rindu ku punya
melukis awan membentuk parasmu
sekuntum mawar aku selipkan di warnamu
Oh.....pelangi berlabuhlah pada langit
peluklah janji insan rapuh ini
temani senjaku di batas hari
selama hidupku hanyalah dirimu
Pelangi dengarkanlah tetesan hati
datanglah demi jiwa gundah ini
Salatiga, 14 Maret 2010
biarkan barat menyapa timur
melewati bersama senja demi senja
Berkisah mesra tentang garis wajahmu
bersama kawanan didadari lantunkan soprano
di tengah taman hijau aku hamparkan biru
semoga tidak menyentuh abu
Ugahari menatap langit
para dedaunan bermain membasahi tanah
menyuburkan semua rindu ku punya
Terdiam sepi melawan sepi
aku sendiri,
hampa rindu kan pelangi
berharap di langit depan menatapku
membalas rindu terdalam
Sungguh aku tak bisa meniup hari
sembunyikan dalamnya sisi ruang bathin
bangunkan jiwa terlelap rindu
Aku pasrah dalam mabuk biru
menyentuh balutan warna di jiwamu
menguraikan lembaran tebal rindu ku punya
melukis awan membentuk parasmu
sekuntum mawar aku selipkan di warnamu
Oh.....pelangi berlabuhlah pada langit
peluklah janji insan rapuh ini
temani senjaku di batas hari
selama hidupku hanyalah dirimu
Pelangi dengarkanlah tetesan hati
datanglah demi jiwa gundah ini
Salatiga, 14 Maret 2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar